Menyedihkan jika melihat realita yang terjadi pada perumahan horisontal yang ada hampir di seluruh Jabotabek, bahkan hampir di seluruh negeri. Pada kawasan buatan seperti areal perumahan untuk tempat tinggal, maupun area bisnis ruko dan perkantoran, hal sepele ini nyaris dilupakan bahkan memang sengaja dilupakan.
Sumur resapan, yang sering didengar dan diketahui memang sangat bermanfaat tetapi jarang dilaksanakan. Bahkan sumur resapan ini menjadi sebuah syarat dalam pengajuan IMB, namun dalam pelaksanaannya tetap masih setengah hati.
Sumur Resapan Dapat Mencegah Banjir (foto:poskota.co.id)
Keterbatasan lahan dan membengkaknya dana pembangunan menjadi faktor penting hilangnya kesadaran masyarakat akan hal ini. Walaupun mereka sadar akan manfaat dari sumur resapan tersebut, juga sadar akan bahaya yang mengancam. Pendek kata, kita menyedot air dari dalam tanah tetapi tidak berupaya mengembalikannya kembali ke dalam tanah. Padahal penurunan muka tanah, banjir, intrusi air laut, dan hilangnya air bersih adalah bahaya yang sudah di depan mata.
Penampungan Air Hujan dengan Sumur Resapan Sederhana Komunal (foto:suarakomunitas.net)
Ada alibi dibalik tidak pentingnya sumur resapan bagi mereka, yaitu anggapan bumi masih sanggup menyediakan air tanah dengan cara alami. Padahal untuk mengandalkan bumi saja secara alami untuk menyediakan air tanah, akan butuh waktu sangat panjang, bahkan disebuah daerah ada yang hingga 3000 tahun. Saatnya bagi kita membantu penyerapan air ke dalam tanah secara buatan, baik berupa sumur atau lubang2 biopori.
Banyak literatur dan cara dalam pembuatan sumur resapan buatan. Pemahaman sederhananya adalah jangan biarkan air hujan dari atap rumah langsung dibuang menuju selokan, buatkan parit atau tampungan agar dapat meresap kembali ke tanah.
Besaran Volume Sumur Resapan Ideal Terhadap Luasan Tanah
Ingat, jangan buang air hujan ke laut, masukkan mereka ke dalam tanah.



0 comments:
Post a Comment