Keinginan untuk mencoba naik angkutan umum di Bekasi sudah tercapai. Ketakutan yang diharapkan pun akhirnya saya alami. Waktu tempuh yang sangat lama -hingga satu setengah jam, tidak sebanding dengan jarak tempuh yang hanya 8 km dalam area Bekasi ditambah 11 km dalam Jakarta. Kenapa bisa terjadi?
Macet, adalah jawaban yang langsung terpikirkan oleh semua orang. Tapi yang semestinya dilihat dan dipahami adalah kenapa bisa macet -hingga sangat parah, bukan cuma di Bekasi, mungkin juga disemua kota yang sedang 'membangun'. Karena Bekasi akan terus membangun dan berkembang. Bekasi harus terus memenuhi 'permintaan' kaum urban, seperti juga Jakarta, Bogor dan Tangerang.
angkutan umum Bekasi (google)
Disela perjalanan dalam angkot tersebut, pemahaman saya yang pertama adalah Bekasi buruk dalam penyiapan dan pemenuhan infrastruktur jalan bagi warganya. Jangan lihat jalan protokol macam Jl. Ahmad Yani, tapi lihatlah jalan-jalan komuter seperti Jl. Kaliabang, Jl. Setu, dan lainnya. Rusak parah pada jalan aspal sudah pasti iya, yang sudah terdapat betonisasi pun banyak retakan-retakan yang berbahaya. Jangan bayangkan bila hujan ikut turun dan menggenangi badan jalan tersebut.
Kedua adalah keinginan para warganya yang ingin cepat-cepat sampai tujuan hingga melupakan peraturan lalu lintas. Juga sampai pada hilangnya rasa sopan dijalan raya seperti tak membiarkan orang tua dan anak sekolah menyeberang, yang pada akhirnya jalan raya tak ubahnya arena tarung. Makin cepat sampai adalah pemenang.
Jalan rusak di Kemang Pratama (tribunnews)
Yang ketiga ini mungkin paling membuat kesal. Awak angkutan umum senang sekali ngetem di pinggir jalan bahkan sampai menghabiskan sepertiga badan jalan demi menunggu penumpang. Sama seperti angkutan umum yang saya tumpangi, 3 menit ngetem untuk angkut 2 penumpang. Padahal kalau angkutan umum bisa nyaman dan terjadwal, dan jalanan sepanjang tujuan selalu mulus, mungkin saya akan rela meninggalkan motor saya dirumah saja.
(pict from google)

2 comments:
bekasi panaaas..
hik..hik.. mas anonym,
gak cuma bekasi aja yang panas. jkt, tangerang, bahkan bogor pun skrg panas.
memang mungkin panas yang terasa dibekasi itu karena kurangnya penataan hjau pada infrastruktur jalannya. coba lihat jalan utama seperti jl.ahmad yani dibekasi, hampir mirip2 jl. kuningan dijakarta kan?
andaikan penataan hijau itu berlaku untuk seluruh jalan dibekasi, bahkan diseluruh jalan dijabotabek, kesan panas akan hilang, dan akan lebih layak untuk kita tinggali. IMHO.
Post a Comment